Sebutan Jam Gadang – Menara jam yang berada di pusat kota Bukittinggi provinsi Sumatra Barat diberi nama sebagai jam Gadang. Mengapa dinamakan sebagai jam Gadang? Hal ini dikarenakan dibagian ke 4 sisinya memiliki ukuran yang cukup besar. Nama tersebut berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti sebagai jam besar. Kehadiran jam berukuran besar ini tidak hanya dijadikan sebagai obyek wisata. Akan tetapi jam ini dijadikan sebagai penanda kota Bukittiggi.

Banyak para masyarakat yang datang ke obyek wisata untuk dijadikan sebagai ruang berinteraksi para masyarakat. Terlebih lagi di sekitar menara jam di perluas dengan taman yang memberikan daya tarik para wisatawan. Menara jam ini merupakan bagunan peninggalan di era Hinda-Belanda. Menara jam ini selalu identik dengan ibu kota provinsi Sumatra Barat. Wajar saja bila menara jam ini dijadikan sebagai simbol di provinsi yang memiliki banyak obyek wisata ini.

Perjalanan Sejarah Jam Gadang

Jam-Gadang-di-Malam-Hari

Sejarah menara yang dipenuhi dengan perjuangan tidak bisa dilupakan begitu saja. Bangunan megah ini dijadikan sebagai monumen kebangsaan di Bukittinggi. Sedangkan untuk konstruksi dari bangunan ini dibangun oleh arsitek yang berasal dari Minangkabau. Biaya yang dihabiskan dalam pembangunan menara jam yaitu mencapai 3.000 Gulden. Sebagai oleh-oleh, Anda bisa membeli sovenir di sekitaran menara.

Baca juga, Pulau Sikuai Padang, Bukti Keindahan Alam yang Hampir Tenggelam

Menara jam memiliki tinggi mencapai 26 meter berada di tengah taman Sabai Nan Aluih. Menara jam menjadi titik nol di kota Bukittinggi. Bahan material yang digunakan berupa putih telur, campuran batu kapur dan pasir. Dengan demikian kontruksi menara jam ini tidak menggunakan semen dan rangka logam.

Lokasi dan Akses Jam Gadang

Pusat titik nol ini berada di pusat kota Bukittinggi provinsi Sumatra Barat. Bagi wisatawan yang mendatangi obyek wisata ini, dapat menggunakan jalur udara yaitu di bandara Internasional Minangkabau.

Setelah itu wisatawan dapat menlanjutkannya menggunakan jalur darat menggunakan taksi resmi. Biaya yang akan Anda keluarkan yaitu kisaran Rp 222.000. harga yang harus dikeluakan cukuplah murah, karena harga tersebut dapat digunakan untuk 4-5 penumpang. Anda juga bisa menggunakan mobil travel dengan tarif Rp 30.000/orang. Apabila Anda ingin menggunakan travel, maka harus keluar dari bandara dahulu.

Harga Tiket Masuk Jam Gadang

Menikmati panorama keindahan dari menara jam yang berukuran sangat besar, Anda tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Obyek wisata ini tidak dipungut biaya sama sekali, alias gratis.

Fasilitas Di Jam Gadang

Menara yang memiliki 4 tingkat ini dilengkapi dengan fasilitas yang cukup menarik, diantaranya yaitu:

Tempat parkir

Anda akan menemukan tempat parkir dengan mudah, karena tempatnya yang luas dan nyaman. Hal ini menjadikan para wisatawan tidak perlu merasa kebingungan ketika mencari tempat parkir. Baik Anda menggunakan kendaraan pribadi maupun sewa mobil New Innova maka tidak perlu khawatir lagi masalah tempat parkir.

Kebersihan

Jam Gadang memiliki tempat yang bersih, karena di dalam menara Anda akan menemukan tempat sampah disetiap sudutnya.

Penginapan

Untuk melepas rasa lelah dan letih, Anda tidak perlu merasa kebingungan. Banyak hotel yang akan Anda jumpai di sana. Harga yang ditawarkan juga sangatlah beragam, dengan fasilitas yang bervariasi pula.

Pedagang

Di area obyek wisata jam Gadang, Anda bisa menemukan banyak pedagang, khususnya para pedagang yang menjual makanan khas kota Padang.

Keunikan Wisata Jam Gadang

Jam-Gadang-Sangat-Bangga

Menara Hadiah

Pembangunan menara jam ini dilakukan pada tahun 1926. Menara dengan 4 tingkat ini dijadikan sebagai hadiah untuk Sekretaris kota Controleur dari Ratu Belanda.

Mesin Penggeraknya

Selain memiliki bentuk yang sama dengan Big Ben yang ada du London, mesin penggeraknya pun juga dibuat sama. menara menggunakan mesin Brixlion sebagai mesin penggerak manual. Mesin tersebut dibuat oleh Forman, seorang bangsawan.

Bandul Jam

Bandul jam yang ada di lantai paling atas pernah mengalami putus akibat dari kejadian gempa bumi d tahun 2007. Melihat hal ini, warga sekitar melakukan pergantian, sehingga bandul jam yang ada saat ini adalah bandul jam versi baru.

Penulisan Angka 4

Angka 4 dalam romawi tertuliskan IV, akan tetapi pada jam Gadang memiliki angka romawi IIII. Hal ini memunulkan keunikan tersendiri yang terlihat pada menara jam ini. Sejarah penulisan ini di atur pemerintah Belanda yang menduduki Bukittinggi pada saat itu. Keunikan inilah yang menjadikan menara jam ini semakin banyak di kenal masyarakat luas.

Bahan Kontruksi

Keunikan lain yang dapat Anda ketahui dari menara jam raksasa ini yaitu bahan kontruksi yang digunakan. Hampir semua bangunan menggunakan bahan material berupa pasir, semen, rangka besar dan yang lainnya. Bangunan yang memiliki tinggi 26 meter dengan alas 13×4 meter ini dibuat tanpa menggunakan semen dan rangka besi. Akan tetapi bahan yang digunakan yaitu menggunakan pasir putih, kapur dan telur putih. Namun bangunan ini tetap berdiri dengan kokoh.

Berganti Bentuk Atap Hingga 3 kali

Pergantian bentuk atap menara jam sudah dilakukan sebanyak 3 kali. Pada awalnya atap menara berbentuk bulat dan dilengkapi dengan patung ayam jantan dan mengharap kearah timur. Renovasi dilakukan dengan mengubah menara jam menyerupai Pagoda. Atap menara jam di ganti sesuai dengan adat Minangkabau, yaitu menyerupai atap dari rumah Gadang. Setelah Indonesia mencapai kemerdekaannya, Renovasi yang terakhir dilakukan oleh BPPI atau Badan Pelestarian Pusaka Indonesia di tahun 2010.

Baca juga, Jembatan Siti Nurbaya, Setapak Jalan Penikmat Sunset & Kuliner

Liburan menjadi moment yang sangat menyenangkan bagi wisatawannya. Bagi Anda yang sedang merencanakan liburan, namun bingung mencari tempat yang keren dan menyenangkan. Sudah saatnya Anda mengunjungi jam Gadang untuk mengabadikan momen sekaligus mengetahui sejarahnya. Gunakan sewa mobil Kia Travello dan kunjungi wisata unik ini bersama seluruh anggota keluarga Anda.